Tampilkan postingan dengan label OLAHRAGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OLAHRAGA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2017

Menyedihan Nasib 5 Atlet Indonesia Kelas Dunia Ini Sekarang Jadi Orang yang Terpinggirkan



Sejak dulu Indonesia sebenarnya memiliki beberapa atlet hebat yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Beberapa atlet ini berhasil mengukir prestasi di bidang olahraga dan menjadikan Indonesia negara yang cukup dikagumi dalam hal olahraga.
Namun berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia saja ternyata tidak cukup mampu menghidupi para atlet ini di kemudian hari. Nyatanya, mereka yang dulu berhasil menjadi atlet kelas dunia, kini ternyata malah menjadi kalangan yang terpinggirkan.

1. Denny Thios, Atlet Dunia yang Kini Jadi Tukang Las

Saat ini mungkin tidak banyak yang mengenal nama Denny Thios. Padahal pada tahun 90an, ia berhasil mencetak prestasi yang luar biasa di cabang olahraga angkat berat. Tidak hanya berprestasi di kelas nasional, ia juga banyak berprestasi di kancah dunia. Ia berhasil meraih medali perak di PON XII, medali emas dalam kejuaraan angkat berat asia yang sekaligus juga memecahkan 3 rekor dunia.

Denny Thios [Image Source]
Denny Thios [Image Source]

Ia juga berhasil meraih medali perunggu dalam kejuaraan angkat berat dunia di Belanda, medali emas dalam kejuaraan angkat berat dunia di Inggris, serta medali emas di kejuaraan angkat berat dunia di Swedia. Namun deretan prestasi membanggakan tersebut nyatanya tidak mampu membuat kehidupannya kini tercukupi. Ia kini bekerja sebagai seorang tukang las di sebuah bengkel kecil yang ia miliki. Penghasilannya tak menentu, namun asalkan bisa makan dan bertahan hidup, hal itu sudah cukup baginya.

2. Marina Segedi, Atlet Pencak Silat yang Menjadi Sopir Taksi

Marina Segedi dulunya adalah atlet pencak silat wanita yang juga pernah sukses di kancah dunia. Dalam kejuaraan SEA Games di Filipina tahun 1981, ia mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Sejak tidak lagi menjadi atlet, hidup Marina ternyata terbilang pas-pasan. Ia tidak memiliki rumah sehingga tinggal bersama ibunya.

Marina Segedi [Image Source]
Marina Segedi [Image Source]

Untuk menghidupi dua anaknya, ia harus bekerja sebagai seorang supir taksi. Namun untungnya, pada tahun 2011, ia sempat bertemu dengan pegawai Kemenpora yang bernama Karsono. Dari sanalah ia tahu bahwa sebagai atlet yang pernah mengharumkan nama Indonesia dirinya bisa mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Akhirnya pada 9 September 2011, ia mendapatkan tunjangan rumah dari Kemenpora setelah mengikuti prosedur dengan menunjukkan bukti medali, piagam penghargaan dan dokumentasi lainnya.

3. Hapsani, Atlet yang Terpaksa Menjual Medalinya Demi Bisa Makan

Hapsani dulunya merupakan atlet lari estafet 4×100 meter. Dalam ajang kompetisi SEA Games tahun 1981 dan 1983, Hapsani berhasil meraih medali perak dan perunggu. Namun pada tahun 1999, ia terpaksa menjual medali tersebuk ke pasar loak di Jatinegara untuk beli bahan makanan.

Ilustrasi [Image Source]
Ilustrasi [Image Source]

Pada saat itu, suami Hapsani menganggur dan hanya bekerja serabutan. Sementara Hapsani sendiri yang sudah berusia 50an mencari penghasilan dengan menjadi pelatih atletik untuk anak-anak di sekitar rumahnya dengan penghasilan yang tidak seberapa.

4. Leni Haini, Mantan Atlet Dayung yang Kini Jadi Buruh Cuci

Leni Haini adalah mantan atlet dayung perahu naga yang juga pernah mengharumkan nama Indonesia. Ia pernah menyumbang 2 medali emas dalam kejuaraan perahu naga Asia di Singapura, 3 emas dan 1 perak di kejuaraan dunia perahu naga di Hongkong, serta 1 emas pada kejuaraan perahu naga Asia di Taiwan. Namun prestasi tersebut ternyata tidak membuatnya makmur secara ekonomi.

Leni Haini [Image Source]
Leni Haini [Image Source]
Ia saat itu masih SMP ketika dipanggil untuk mengikuti pelatihan. Meski sudah mempertanyakan nasib sekolahnya, namun dijawab urusan sekolah bisa nanti. Akhirnya ketika keluar dari pelatnas di usia 22 tahun, pengurus sudah berganti dan tidak mempedulikan nasib pendidikannya. Hanya dengan berbekal ijazah SD dan kejar paket B, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan dan akhirnya menjadi buruh cuci.

Sementara itu, salah satu putrinya menderita penyakit langka hingga barang dan harta miliknya harus dijual untuk mengobati putrinya. Karena putus asanya, ia bahkan sempat berniat membakar piagam penghargaan yang ia miliki.

5. Suharto, Atlet Balap Sepeda yang Menjadi Tukang Becak

Suharto adalah seorang atlet balap sepeda yang berhasil menyumbangkan medali emas dalam SEA Games di Thailand tahun 1979. Bersama dengan rekannya yakni Sutiono, Munawar dan Dasrizal, mereka berhasil mengalahkan Malaysia di nomor ‘Team Time Trial’ jarak 100 km.

Suharto, atlet balap yang kini jadi penarik becak [Image Source]
Suharto, atlet balap yang kini jadi penarik becak [Image Source]
Tidak hanya itu saja, ia juga mampu menyumbang 2 medali perak untuk nomor jalan raya beregu dan perorangan. Meski berhasil menorehkan prestasi yang bukan sembarang, ternyata ia harus menghabiskan masa tuanya sebagai seorang tukang becak di Surabaya.

Menjadi atlet yang berhasil menorehkan prestasi untuk negara tentu adalah hal yang sangat membanggakan. Bukan hanya bagi para atlet itu sendiri, tapi juga bagi setiap masyarakat Indonesia. Namun akan sangat disayangkan jika perjuangan mereka akhirnya tidak mampu menjamin kehidupan mereka sendiri. Karena setidaknya harus ada apresiasi terhadap mereka yang telah memberikan jasa bagi Indonesia.
Baca Juga: Restoran Mewah Ini bangkrut Hanya Gara-gara Segelas Air Putih, Kok Bisa...!!
[Tajuk Antara News / bom]

Kamis, 29 Desember 2016

Anda Pasti Kaget Melihat Kebiasaan Orang Kaya Ini Setiap Mengisi Bensin


Ada seorang sahabat, sebut saja namanya Hasan. Orangnya sangat bersahaja. Ia punya “kebiasaan” yg menurut saya sangat langka dan mungkin anda tidak pernah melihat org seperti ini. Kalo membeli sesuatu dari “pedagang kecil”, ia tidak mau menawar, bahkan seringkali jika ada uang kembalian, selalu diberikan pada pedagangnya.

Anda Pasti Kaget Melihat Kebiasaan Orang Kaya Ini Setiap Mengisi Bensin



Pernah suatu saat saya dan rekan-rekan naik mobil mewahnya, mampir di salah satu SPBU.  Untuk sekedar mengisi bahan bakar, dari sini kami melihat keanehan dari sahabat saya ini. Hasan berkata kepada Petugas SPBU: “Tolong diisi Rp 90 ribu saja”. Sang Petugas merasa heran. Iapun balik bertanya: “Kenapa tidak sekalian Rp 100 ribu pak ?”
“Tidak apa-apa, isi saja Rp 90 ribu,” balas Hasan.

Selesai diisi bensin, Hasan memberikan uang Rp 100 ribu. Sang petugas pun memberikan uang kembalian Rp 10 rib. Hasan berkata: “Gak usah, ambil saja kembaliannya.”



Sang petugas SPBU seperti tidak percaya. Ia pun berucap: “Terima kasih Pak. Seandainya semua orang spt Bapak, tentu hidup kami akan lebih sejahtera dengan gaji pas-pasan sebagai pegawai kecil”.


Saya tertegun dengan perilaku Hasan dan juga petugas tersebut.
Di dalam perjalanan, saya bertanya pada sahabat saya tersebut : “Sering melakukan hal seperti itu ?”

Hasan menjawab: “Sahabatku, kita tidak mungkin bisa mengikuti semua perintah Allah. Lakukanlah hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di sekeliling kita, yang penting konsisten. 
Kita tidak akan jatuh miskin jika setiap mengisi bensin kita bersedekah 10 ribu kepada mereka. Uang 10 ribu itupun tdk akan membuat dia kaya tapi yang jelas membantu dan membuat hatinya bahagia.



Sahabatku….
Hiduplah Setiap hari dengan Perhitungan Matematika Kehidupan
mengalikan (x) sama dengan kegembiraan, 
mengurangi (-) sama dengan kesedihan, 
menambahkan (+) sama dengan semangat, 
membagi (÷) sama dengan kebahagiaan, dan 
menquadratkan cinta & kasih sayang antar sesama. 



Silahkan di Bagikan Artikel Ini Smoga smakin banyak orang yang senang Berbagi untuk sesama terutama kepada mereka yang membutuhkan bantuan kita.